Watching Yeopgijeogin geunyeo (My Sassy Girl)

“I just wasted my time on stupid thoughts.”

“Like what?”

“If we were destined to meet, i thought we’d meet by chance somewhere.”

“Know what fate is? Building a bridge of chance for someone you love.”

——-

An comedy romantic movie that reflect how love works in normal reality.

Glad not to see Korean drama stereotype: when rich handsome man compete with charismatic badboy to get one pretty girl.

Three from five stars.

Watching Yeopgijeogin geunyeo (My Sassy Girl)

View on Path

#MeluruskanPersepsi: “Benarkah Lelaki Minang Mesti DIbeli?”

Dita, gadis Lombok berusia 20 tahun, dikenal karena foto ‘upside down’ (kamu bisa lihat di instagramnya) mengeluarkan pernyataan begini sore ini:

“Kak, cowok padang kalau nikah mesti dibeli kan?”

Apa?
Apa,Dita?
Coba ulang sekali lagi.

“Kak, cowok Padang kalau nikah mesti dibeli kan?”

 

That’s shocked me alot.

Untuk kesekian kali, sudah cukup banyak gadis-gadis di kampus yang menuduh demikian. Saya sebagai lelaki minang (Minang. Bukan orang Padang. Karena Padang sejatinya adalah nama kota, bukan suku bangsa) sedikit banyaknya tetap terkejut dan merasa perlu menjelaskan tentang itu, tentang anggapan bahwa lelaki Minang mesti ‘dibeli’ oleh (keluarga) pengantin wanita.

Saya khawatir jika banyak gadis-gadis bersuku non-minang yang akan menampik saya dan lelaki Minang lainnya karena dihantui persepsi semacam itu.

Jelas, bahwa hal ini mesti dijelaskan dengan jelas.

***

Mengejutkan bahwa peraturan adat minang yang satu itu, masih populer dengan versi lamanya, ketimbang versi barunya. Maksud saya, yang mereka takutkan itu adalah tata cara pernikahan menurut adat lama, bukan adat yang baru. Seiring dengan munculnya kisah ‘Sitti Nurbaya’ oleh Bapak Roman Indonesia (Marah Roesli), peraturan adat bahwa laki-laki mesti ‘dibeli’ oleh wanita yang menikahinya telah terbarukan oleh perkembangan zaman selama puluhan tahun, sejak ‘Sitti Nurbaya’ dikenal khalayak.

Gambar

Novel roman paling fenomenal di Indonesia: Sitti Nurbaya

Sepengetahuan saya, sampai saat tulisan ini diturunkan, hanya daerah Padang Pariaman yang masih menerapkan hal demikian. Mayoritas masyarakat Minang sudah tidak menganut paham adat seperti itu lagi. Modernitas telah mengubah pelaksanaan adat tentang pernikahan bagi orang Minang, demi terlaksananya pernikahan yang bermanfaat bagi kedua belah pihak, baik suami beserta keluarga besarnya, dan istri beserta keluarga besarnya juga.

Kenapa demi bermanfaat bagi kedua belah pihak? Memangnya pernikahan menurut adat lama merugikan?

Mengutip pernyataan Marah Roesli dalam novel terakhirnya ‘Memang Jodoh’, tata cara pernikahan menurut adat lama telah menyebabkan penderitaan bagi pasangan yang menikah.

Gambar

Novel terakhir Marah Roesli: Memang Jodoh

Penderitaan dialami oleh Marah Roesli hingga akhirnya beliau ‘memberontak’ dari adat, dan menikahi wanita yang beliau cintai, seorang gadis Pasundan, bukan gadis Minang. Keputusan itu mesti diganjar dengan pengorbanan, Marah Roesli dibuang dari kaumnya secara adat. Tidak dianggap lagi sebagai orang asli dan bangsawan Minang.

Kemudian Marah Roesli menulis pemberontakannya dalam cara yang santun melalui karya sastra, mengarang cerita-cerita lain tentang perkawinan di Minangkabau, sebagai pernyataan betapa cara-cara perkawinan itu terlalu dilebih-lebihkan, sehingga yang pada mulanya baik, menjadi terlalu ranum, sehingga tak layak lagi dimakan karena terlalu masak.

***

Pada masa dulu, adat Minang menganjurkan (baca: nyaris mewajibkan) laki-laki berpoligami, karena jumlah istri menandakan kemuliaannya. Poligami saat itu dipandang sebagai tindakan yang amat dihormati, menandakan bahwa sang laki-laki adalah orang yang baik, dihargai, dimuliakan dan disukai banyak orang, kemudian menjadi idaman dan incaran para gadis-gadis lajang  dan ibu-ibu yang mendambakan menantu berkualitas. Jika seorang laki-laki minang hanya beristri satu, akan dianggap sebagai suatu kehinaan, dianggap sebagai tanda bahwa laki-laki itu bukan orang yang baik-baik sehingga tidak disukai oleh banyak gadis-gadis & orang lain.

Gambar

Pernikahan dengan adat minang

Kontras sekali dengan pemahaman masa kini, yang menganggap poligami hanyalah wujud ketidakpuasan laki-laki pada satu pasangan dan juga sebagai wadah pemuasan nafsu belaka berkedok pernikahan.

Laki-laki Minang dipandang sangat mulia. Apalagi jika dia seorang bangsawan. Diawali dengan persepsi itu, peraturan adat ini berlaku. Jika ingin menikah dengan laki-laki Minang, keluarga dari pihak wanita mesti ‘menjemputnya’ dengan sejumlah uang dan perhiasan.

Semakin tinggi tingkat kebangsawanan seorang laki-laki, makin mahal ‘biaya jemputannya’. Tidak jarang keluarga dari pihak wanita pada masa dulu rela menjual perhiasan, menggadaikan rumah dan sawah untuk ‘menjemput’ calon menantu/suami idaman. Nah, mungkin ini yang dianggap sebagai: “Laki-laki Minang kalau mau menikah, mesti dibeli oleh calon mempelainya.”

Menurut pemikiran saya, hal ini justru bertentangan dengan ajaran Islam, yang menyuruh agar suami-lah yang harus membayar mahar kepada istri. Bukan sebaliknya. (QS An-Nisaa 4:4)

Hal ini yang diprotes oleh Marah Roesli melalui karya-karyanya. Seiring perkembangan zaman, peraturan adat tentang pernikahan diadaptasi agar sesuai dengan kehidupan modern. Hanya daerah Padang Pariaman yang masih memakai cara lama, bahwa lelaki Minang yang ingin dinikahi (oleh gadis bersuku mana pun) mesti dijemput/ditebus dengan sejumlah uang yang besarnya ditentukan dari tingkat pendidikan sang lelaki. Semakin tinggi pendidikannya, maka semakin mahal juga uang jemputannya. Sisanya untuk daerah Bukittinggi, Padang, Batusangkar, Payakumbuh, dan lain-lain kecuali Pariaman tidak memakai adat lama lagi.

Tapi bagaimana jika kalian terlanjur jatuh cinta dengan lelaki Minang asal Pariaman? Apa harus dihindari karena takut membayar uang ‘jemputan’?

Saya rasa enggak.

Esensi kita sebagai rakyat Indonesia adalah hidup berdampingan sesuai prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Jadi tenggang rasa dan toleransi jadi pedoman utama untuk hidup bersama dengan damai. Semakin luas pergaulan kamu, semakin banyak juga tata cara adat yang kamu ketahui dan mungkin merasa aneh dengan itu. Di sini kita diuji agar mampu memahami dan beradaptasi dengan perbedaan budaya. Di sini kita diuji agar tetap mencintai budaya sendiri tapi tidak menjelma jadi pribadi yang etnosentris (sikap fanatik overdosis pada budaya sendiri dan meremehkan budaya lain)

Hiduplah sebagai warga Indonesia dengan paham egaliter bebas, terbuka dan intelektual. Bukan zamannya lagi kita hanya menilai seseorang dari budaya yang dibawanya, tapi juga kemampuan dan pribadinya. Bukan zamannya lagi cinta kepentok adat, semuanya bisa didiskusikan baik-baik dengan pendekatan dari hati ke hati, dari keluarga ke keluarga.

Hidup bahagia dengan orang yang kita cintai adalah hak asasi masing-masing.

Jadi, jangan ragu untuk jatuh cinta pada orang Minang (atau suku manapun). Jika beruntung, mungkin bisa lanjut ke pelaminan. :-p

Gambar

Muda-mudi Minang yang menawan: saya yang berbaju merah pakai topi :)

***

Jakarta, 26 Maret 2014

1:06 am

 

Bacalah Gambar Berikut dari Bawah :)

Bacalah Gambar Berikut dari Bawah :)

Buah pikiran dari hasil observasi sekitar. Jadi terpikir dan menyimpulkan kalau jadi pemimpin itu memang susah.

Tapi banyak tuh yang pengen jadi pemimpin. Semoga mereka ga over-confidence dan amanah jika terpilih. hehe

#jadipemimpinsusah #susahnyajadipemimpin

WORDS FROM PRO: “Karya Seni Yang Baik itu adalah Ekspresi dari Hati”

Lama hilang dari wordpress. Maaf, saya sedang disibukkan dengan kekasih baru :p

Tumblr namanya. Saat ini saya sedang giat menggiatkan tumblr sebagai media pameran foto swadaya. Jika kalian ingin cuci mata dari layar laptop yang menjemukan atau rutinitas yang memuakkan, silahkan berkunjung ke www.salindia.tumblr.com. Tempat di mana saya melihat dunia melalui sensor CMOS, sensor yang ada dalam setiap kamera digital abad ini.

 

Pameran foto swadaya: salindia.tumblr.com

Pameran foto swadaya: salindia.tumblr.com

Salindia belum genap berusia seminggu tapi alhamdulillah sejauh ini mendapat respon positif, khususnya dari teman-teman satu kampus. Mulai dari doa agar proyek baru ini sukses, sampai ‘memberi hati’ pada foto-foto saya dan me-reblog-nya. Tentu saja ini menggembirakan hati dan membuat saya semakin mantap melanjutkan salindia sebagai pameran foto swadaya.

Suatu malam saya terpikir untuk meminta saran dan kritik dari seorang ahli, fotografer yang berpengalaman dan jauh lebih hebat. Pikir saya, apa gunanya giat belajar dalam berkarya jika tak mendapat kritik dan saran dari ahlinya. Belajar tanpa bimbingan kritik dan saran lambat laun akan mengubah saya jadi katak dalam tempurung yang sombongnya melewati langit ketujuh.

Pikiran saya tertuju pada satu nama, Erison J Kambari. Seorang fotografer kawakan asal Sumatera Barat yang kiprahnya sudah menginjak tangga nasional. Sudah banyak karya-karya yang beliau hasilkan dan diapresiasi oleh banyak pihak. Beliau biasanya membagi karya-karya melalui akun facebook, memberi tahu dunia akan keindahan alam dan budaya minangkabau.

Saya segera menghubungi Om Son (Erison) untuk meminta kritik dan saran beliau untuk karya-karya saya..

Gambar

Yang mengejutkan adalah, ternyata om Son menyukai link yang saya berikan di dinding facebook beliau.

Yang lebih mengejutkan ada di kotak masuk pesan pada facebook saya.

Erison J Kambari

Erison J Kambari

Salam kenal Luthfi…

Maaf, om Son belum pernah sekalipun memberi KRITIK untuk karya orang lain. Jadi om tidak bisa mengkritik foto2 luthfi, dan om memang tidak mau memberi KRITIK. Bagi (om), foto KARYA SENI seseorang itu untuk DINIKMATI SEBISANYA, bukan untuk DIKRITIK2 atau DISARAN2.

Sampai hari ini om berkeyakinan SARAN dan KRITIK belum tentu membuat karya kita menjadi lebih baik!. KRITIK dan SARAN dari seseorang untuk karya kita, itu hanyalah luapan EGO seseorang yang menginginkan karya kita seperti yg dia inginkan! hehe.. Sebanyak orang yg kita mintai saran dan kritik, sebanyak itu pula keinginan2 mereka, harus begini harus begitu sesuai keinginan masing2 mereka. Dan semua itu belum tentu membuat karya kita akan menjadi lebih baik!

Bukankah karya seni yg baik itu adalah EKPRESI dari HATI kita dan bukan dari keinginan2 dari orang lain, sebagai yg belajar OTODIDAK (sama seperti om Son), cara terbaik untuk memperbaiki karya kita adalah dengan RAJIN-RAJIN MENGAMATI KARYA ORANG LAIN, tentunya karya2 yg hebat, lalu kita pelajari sisi2 kelebihan dan kekurangan foto tsb, lalu kita coba2 mencari objek2 seperti mereka (bukan dengan cara mencontek habis2an) tapi sekedar menjadi inspirasi.

Terus RAJIN-RAJIN MOTRET. Apa saja. Lama2 ada “RASA” yg terasah. Naah.. soal “RASA”itu yang susah2 gampang menemukannya. Kalau hanya sekedar motret tanpa sentuhan ‘rasa’, biasanya foto2 yg dihasilkan juga biasa2 saja.

Om sering perhatikan teman2 fotografer kalau posting foto, ada kalimat begini’ “MOHON SARAN dan KRITIK…mohon kripik pedasnya..atau MAAF KALAU KURANG BERKENAN.” Menurut om son, kalimat2 begitu sebaiknya dihindarkan, karena itu justru MENGURANGI NILAi foto kita. Kita sudah merendahkan nilai foto duluan sebelum foto kita dinikmati orang. Kalimat2 itu hanyalah BASA BASI yg tak perlu menurut om son. Alangkah baiknya foto diberi JUDUL yang bisa memberi NILAI PLUS untuk sebuah foto. JUDUL FOTO yang menarik juga membuat penikmat foto bisa tergiring ke suasana yang kita inginkan. Jadi jangan sekali2 menggiring penikmat foto untuk MENGHUJAT foto kita dengan membuka pintu caci maki dengan kalimat basa-basi tadi.

KRITIK dan SARAN terbaik, justru datang dari diri kita sendiri (INTROSPEKSI DIRI) dan bukan dari orang lain. Karena Fotografi adalah soal EKSPRESI HATI dan KEJUJURAN. Fotografi bukan hitungan matematika. Bagi om, dalam fotografi tidak ada istilah HARUS BEGINI HARUS BEGITU. Semua ada indahnya, tergantung kita yg menikmatinya. (MAAF LUTHFI…semua ini hanya PENDAPAT OM SON PRIBADI) bukan untuk SETUJU atau TIDAK SETUJU, hanya sekedar berbagi cerita dan rasa.. Salaaaam..

itu adalah kata-kata yang (amat) membangunkan.

Saya jadi ingat kembali, bahwa esensi dari seni adalah untuk ekspresi jiwa. Untuk dinikmati. Bukan larut dalam adukan kritik. Banyak hal-hal yang tenggelam dalam gulungan ombak kritik, sehingga kehilangan rasa untuk dinikmati. Menyanyi jadi terkesan sulit dan perfeksionis saat kita mendengar komentar juri Indonesian Idol, padahal nyanyian cempreng dari balita atau orang yang kita cintai bisa jadi terdengar sangat merdu di telinga. Memasak menjadi hal yang ribet dan makanan tiba-tiba jadi sesuatu yang dinilai amat detil akibat komentar juri masterchef indonesia yang kita tonton di tv. Menyedihkan jika ada masakan ibu juga mendapatkan kritik pedas dari anak, akibat menonton tayangan kritik berkedok masak-memasak itu. Hidup jadi kehilangan spontanitas, akhirnya kita jadi berpikir berkali-kali sebelum dikeluarkan, bukan untuk evaluasi tapi khawatir akan kritik pedas membakar.

Terima kasih Om Erison, untuk kata-kata yang mengencerkan semangat dan membebaskan spontanitas berkarya.

***

Jakarta, 18 Februari 2014
Menteng atas dalam

#cumadiindonesia #1 : Soto Gerobakan

#cumadiindonesia #1 : Soto Gerobakan

karya: Luthfi Kurniawan

Beberapa hal di Indonesia keberadaannya ekslusif, asing bagi negara lain. Bukan, bukan hal-hal negatif seperti menyeberang di sembarang tempat tanpa jembatan, atau tisu toilet yang dijadikan tisu makan. Bukan. Hal-hal demikian tidak menyedot perhatian demi kebaikan.

Ialah ‘soto gerobakan’. Dijual dalam gerobak sebagai restoran portabel yang dapat berjalan. Gerobak sangatlah esensial sebagai dapur tempat penjual meracik makanan soto. Biasanya tersedia satu panci besar yang dihangatkan dengan api yang bersumber dari gas elpiji, isinya kuah soto dengan segala bumbu dan rempah pilihan. Berikutnya di dalam gerobak, ada beberapa lemari kecil yang menyimpan bahan-bahan utama dan pelengkap, seperti: ayam, bunga kol, taoge, beberapa wadah kecil penampung bawang goreng, seledri dan lain-lain.

Soto gerobakan biasanya dilengkapi tenda mini dengan terpal, meja kecil dan kursi-kursi plastik bagi pelanggan yang ingin menyantap langsung di tempat. Anda tentu juga bisa membawa soto pulang agar bisa disantap di rumah. Oh ya, sesuai pengamatan, soto gerobakan biasanya khusus menjual aneka soto khas Jawa atau Betawi. Lain dengan soto khas Minang yang biasanya dijual di restoran masakan Padang.

Lain padang, lain belalang. Yang jelas semua soto adalah kenikmatan.

Selamat makan!

Jangan Pergi..

Luthfi Kurniawan:

Menyentuh. Bukti bahwa ikatan antara guru dan murid tak sekedar transfer ilmu. Indonesia Mengajar sungguh luar biasa! :”

Originally posted on .: Celeste Anima :.:

Matanya berkaca-kaca menatap carrier merah yang kusembunyikan di belakang punggungku.

“Isak!” 

Anak-anak berteriak memanggilnya dari tengah lapangan.

Ia menundukkan kepala.

Tangan mungilnya meremas kaos kumal yang basah terkena cipratan lumpur.

“ISAK!!!”

View original 401 more words

Cerita Pendek: Surat Untuk Alien

Jakarta, 25 Januari 2014
22:56 WIB

Lama tidak jumpa ya? Saya putuskan mengirimimu surat elektronik untuk sekedar ngobrol. Surat ini bisa jadi ngalor-ngidul, semoga kamu paham saat membacanya.

Bagaimana kehidupanmu sebagai alien? Apa kamu sudah bisa membaur dengan orang lain? Em, koreksi. Maksud saya.. Apa kamu sudah bisa membaur dengan manusia? Kamu tahu kan, di waktu yang dulu kita ini adalah alien yang dikucilkan oleh manusia sekitar. Kontras sekali dengan yang lain, mereka bergerombol ke kantin, dan sisanya kumpul-kumpul lalu bergosip. Sedang kita berdua selalu di kelas saat jam istirahat. Oleh manusia (baca: teman sekelas), kita dinobatkan jadi alien. Sejak itu kita jadi lebih sering berdua lalu digosipkan saling cinta dan pacaran.

Itu ide paling muskil yang pernah saya dengar. Kita ini bersuku sama, aku sikumbang, kamu juga sikumbang. Jatuh cinta bukan pilihan jika tak ingin diusir dari kampung lalu terbuang tak punya adat.

Oh ya, apa kamu masih hidup sendiri setelah kita tak bertemu lagi? Atau kamu telah menemukan alien lain yang menyerupai saya?

Jujur saja, saya masih hidup sebagai alien. Pindah dari kampung ke kota tetap tak mengubah apapun. Saya alien dan menyukai kesendirian. Seperti yang pernah saya bilang padamu, kesendirian melindungi dari rasa tidak aman. Itu yang saya (dan mungkin kamu juga) rasakan. Semacam gelembung perlindungan super elastis yang melindungi saya dan kamu dari orang-orang jahat atau sekedar cuaca buruk. Saat sendiri, saya tidak perlu berbagi payung dengan orang lain atau bisa menikmati makanan enak sendirian. Tapi hal-hal demikian tidak terasa menyenangkan lagi jika terus kau terapkan dalam hidupmu.

Ada kalanya kamu akan butuh teman untuk nonton film baru ke bioskop, atau partner tertawa saat hal-hal konyol menimpamu, atau seseorang (atau beberapa orang) yang akan mengganggu makan malammu; karena berebut potongan terakhir dari makanan yang enak. Hal-hal itu kontras dengan kesendirian, tapi akan jadi menyenangkan untuk penyendiri sekalipun.

Kesendirian itu menyekap, rasanya seperti mulutmu sedang ditutup dengan sapu tangan yang diberi obat bius agar kau hanya sibuk dengan percakapan internal di dalam diri, bukan percakapan dengan orang lain. Kesendirian adalah bius yang membuatmu yakin bahwa dunia tidak aman dan orang-orang di luar sana tidak akan cocok denganmu. Kesendirian kadang angkuh, kadang juga rendah diri. Kesendirian yang angkuh membuatmu merasa lebih hebat dari orang lain, kesendirian yang rendah diri membuatmu meyakini kalau mereka takkan mau berteman denganmu yang lebih rendah dari sisi kualitas. Mau itu angkuh atau rendah diri, kesendirian akan berubah dari gelembung elastis pelindung menjadi dinding tebal yang terbuat dari silikon karbida dengan campuran vibranium alloy. Mengurungmu untuk selamanya dalam sunyi dan pengasingan.

Psikopat atau sosiopat?

Jangan tersinggung, pertanyaan itu diajukan untuk penulis tulisan ini. Iya saya, bukan kamu. Saya yakin kamu bukan alien lagi, saya yang masih jadi alien.

Saya sempat meyakini kalau untuk jadi stand-out, kita memang harus terlahir sebagai pribadi yang aneh, penyendiri dan sering tidak cocok dengan orang lain. Beberapa orang pintar dalam ensiklopedia pun begitu, they are don’t play well with the others. Tingginya IQ menghalangi mereka menjadi party goers, lebih suka baca buku dan malas basa-basi. Dianggap aneh, gila, lalu dijauhi sampai mereka memunculkan inovasi; inovasi yang membuat orang-orang seperti monyet yang baru tahu bahwa pisang itu rasanya enak. Tapi, rasanya saya tidak sefantastis itu; tidak seaneh Albert Einstein, Copernicus, atau Tony Stark (?).

Jadi, psikopat atau sosiopat?

***

Film Pendek Indonesia: Katarsis

Diadaptasi dari novel ‘Katarsis’ yang ditulis oleh Anastasia Aemilia, kami membuat film pendek sebagai syarat utama ujian akhir semester untuk mata kuliah ‘Penulisan Kreatif’ di Universitas Bakrie.

Tim produksi ‘Imut-Imut Jalang’:
- Sutradara: Muhammad Ikhsan Apridho
- Produser: Kartika Putri Hanafi
- Script Writer & Art Director: Luthfi Kurniawan
- Assistant of Art Director: Fauziah Listyo Ayunani
- Make Up : Dinar Barita
- Costume: Kartika Ayu Kharisma

(Sedikit) Catatan saat malam terakhir kami berjuang menyelesaikan film ini bisa dibaca di sini.