#01 Dian Pelangi (?)

Lagi kaya nih. Kaya sama waktu luang. Alhamdulillah, jadi bisa leha-leha sambil produktif. Produktif ngintipin apa aja yang awalnya ga penting. Kali ini saya intip foto kontak whats app satu-satu. Seru. Ada yang foto sama orang-orang terdekat, ada yang selfie, ada yang ga pake foto, ada yang pake logo acara.

Semoga yang pake logo acara bukan karena krisis self esteem.

Saya mau ngintip foto kontak whats app Mama saya. Tapi ga ketemu.

O iya, Mama ga pake whats app.

Intip satu-satu, mulai ga seru. Bosan. Tahu-tahu kaget pas liat kontak yang satu ini. Fotonya pake jilbab. Bergaya. Saya mau share foto-nya, tapi enggak jadi. Takut dimarahi orang tuanya, atas tuduhan perbuatan tidak senonoh karena menyebarkan paras anaknya sembarangan, tanpa izin.

Ampun, ga jadi. Takut ah.

Tapi kalau kalian penasaran, ini saya lukis sedikit.

 

Gambar

Ini dia Nuriy yang saya sangka Dian Pelangi. Kesalahpahaman diakibatkan gaya Nuriy saat menekuk lehernya.

Buka papan ketik, tak tuk tak tuk. Mau ngomong.

Ah kirain Dian Pelangi 18:43

Taunya Nuriy 18:43

Eh! Dibalas dong. Asik.

18:47 lutfhiiiii

18:47 pffft

Lah dia cemberut. Mungkin karena ga mirip Dian Pelangi ya?

Tak tuk tak tuk. Ketuk ketuk layar lagi.

Maaf, Nur. Lagi gabut. Gue lagi ngecek foto kontak wasap satu-satu. 18:49

Oh ya, Luthfi. Bukan Lutfhi. Kata orang Arab artinya beda. 18:49

Ya deh, asamikum. 18:49

Saya taruh hape. Keluar pergi mencari kopi. Sobek sebungkus, aduk-aduk hingga halus. Kopi pun larut. Sebelum bikin kopi saya comot sepotong melon dingin. Alhamdulillah, ternyata seger juga.

Saya pikir saya harus mulai ngetik. Ngetik pengalaman hari ini. Pengalaman ini. Pas mau ngetik, azan berkumandang. Panggilan Tuhan datang. Kopi yang baru dibikin, ditinggal dulu seorang.

 (( 20 menit kemudian ))

Saya sampai lagi di rumah. Tadi habis shalat jama’ah. Segera pegang gelas. Untung kopi masih hangat. Saya bawa ke dalam kamar, buat teman ngetak-ngetik. Seruput dikit.

Berrrt… Berrrt…

Albert?

Oh, bukan. Itu tadi hape geter-geter. Ada pesan masuk.

19:35 Hahaha iya maap maap ga konsen ngetiknya jadi typo

19:35 gue lagi nonton tadi hehe

19:35 sawry luthfii

Oh, Nuriy lagi. Tadinya saya mau balas lagi, tapi ga jadi. Dia lagi nonton. Saya lagi ngetik. Demi keasikan bersama, sebaiknya chat ini sampai di sini saja.

Tak tuk tak tuk. Tak tik tak tik. Saya ketik-ketik.

Tadinya saya mau balas.

Nur, elo punya kloning-an ga? Kalau ada, bekabar aja ya. Mau gue jadiin calon istri. Soalnya elo kan sudah ada yang punya. Ga enak ambil pacar orang. Semena-mena. Melanggar hak asasi. Nanti saya disangka Prabowo subianto.

Tapi ga jadi. Ga jadi diketik untuk dikirim. Biar tetap asik. Saya asik ngetik, dia asik nonton. Ya sudah, sama-sama asik.

Tak tik tak tik. Ketak-ketik. Ketak ketik.

“Ichsan! Berisik! Berisik!” teriak sepupu saya yang namanya Rafdi.

Tet teeett… teeeet…! Ichsan sibuk main pianika malam-malam, nyanyi lagu ‘Ibu Kita Kartini’. Ichsan itu adiknya Rafdi. Ichsan baru kelas dua SD.

Ichsan patuh, dia menarik diri. Pianika disembunyiin dalam lemari.

Dia juga ikut sembunyi dalam lemari.

Bekasi, 11 Mei 2014. 19:56 WIB.

 

 

Kesukaan: Uchiha Itachi

Kesukaan: Uchiha Itachi

Kenapa saya suka dia? Karena dia pintar dan sayang keluarga (meskipun caranya beda & penuh pengorbanan). Itachi ini digambar pada hari raya Waisak, jadi dia ingin mengucapkan: “Selamat lanjut tidur sampai siang bagi yang menjalankan!”

Kesukaan: Captain America

Kesukaan: Captain America

Awalnya sempat underestimate sama superhero ini. Cuma jago berantem, kalau kena peluru bisa mati juga. Tapi superhero ini yang paling manusiawi setelah Batman. Kental sama unsur-unsur heroisme dan patriotisme. DIbikin dengan pensil 2B lebih dulu, lalu diselesaikan dengan pena gambar … Baca lebih lanjut

Watching Yeopgijeogin geunyeo (My Sassy Girl)

“I just wasted my time on stupid thoughts.”

“Like what?”

“If we were destined to meet, i thought we’d meet by chance somewhere.”

“Know what fate is? Building a bridge of chance for someone you love.”

——-

An comedy romantic movie that reflect how love works in normal reality.

Glad not to see Korean drama stereotype: when rich handsome man compete with charismatic badboy to get one pretty girl.

Three from five stars.

Watching Yeopgijeogin geunyeo (My Sassy Girl)

View on Path