(Lagi) Fiksi untuk Kelas Creative Writing

TOKO KOPI

oleh: Luthfi Kurniawan

Lagi-lagi malam minggu yang sama untuk kesekian kalinya. Toko kopi ini dan segelas capucinno hangat. Orang-orang yang semakin ramai dan aku yang selalu duduk sendirian di sini. Sesekali ada gelak tawa yang pecah, dari orang-orang yang tidak sendirian. Mereka duduk berhadapan lalu bertukar cerita dengan teman atau pasangannya.

Ada juga kulihat beberapa mahasiswa duduk santai dengan laptop di depannya. Sendirian. Darimana aku tahu kalau dia mahasiswa? Karena sejak tadi dia hanya memesan satu kopi paling murah disini dan sudah memakai jaringan wifi di toko kopi ini. Sudah 5 jam sejak dia memesan kopi nya dan belum juga beranjak. Dasar mahasiswa..

Mahasiswa saja bisa senang dalam kesendirian, tapi aku tidak.

Aku selalu memesan segelas capucinno hangat untuk dibiarkan dingin, melamun dan menunggu hingga malam minggu berakhir. Sudah 3 minggu ritual ini aku jalani. Selalu duduk di bangku untuk 4 orang tapi selalu diisi oleh hanya aku seorang.

Sebenarnya, aku punya motivasi lain untuk datang ke toko kopi ini.

Sang barista. Barista paling muda di toko kopi ini, tinggi kira-kira 180 cm dengan berat tubuh yang ideal, rambutnya ikal dan kulitnya kuning langsat. Dia selalu menyambut pelanggan dengan senyum yang amat indah, membuat pelanggan wanita yang mampir kesini tak berdaya dibuatnya. Ku juluki dia ‘Barista dengan senyum 1000 volt, menyentrum hati siapapun yang melihat senyumnya.”

Sayangnya hubungan ku dengan si barista 1000 volt tak beranjak dari hubungan antara barista & pengunjung toko kopi. Tidak ada yang spesial, aku hanya senang melihat senyumnya dan tak berani mengajak kenalan, apalagi bertukar nomor handphone. Dia sangat sibuk sehingga aku lebih senang melihat senyumnya & gerak gesit saat dia meramu kopi. Andai dia juga bisa meramu hatiku bagai dia meramu kopi..

Ah, lamunan ini lagi. Lamunan yang sama setiap malam minggu.

Kupegang gelas capucinno ku. Ternyata masih hangat. Berarti masih ada banyak waktu bagiku untuk melamun sampai kopi nya dingin.

Lalu aku mulai berfantasi dengan si barista, berfantasi jika seandainya saja di setiap pagi dia selalu membuatkan kopi untukku, selalu bangun lebih awal lebih awal dariku, dan menyapa ku dengan hangat, “Wah, malaikat ku sudah bangun ya? Masih ngantuk? Ini ada segelas cinta yang sudah ku ramu untukmu!”

Kyaaaaaa…!!. Aku histeris, memekik tanpa suara di dalam hati. Lalu setelah minum kopi bersama, kami lalu..

Tiba-tiba lonceng pintu berbunyi keras.

Lamunan ku buyar.

Padahal aku sedang asik-asiknya berfantasi. Siapa dia? Mentang-mentang dia seorang pelanggan lalu bisa membuka pintu dengan keras sehingga lamunan ku buyar. Barangkali dia pria berotot  rajin fitness yang punya lengan kekar, lalu ingin pamer kekuatan dengan buka pintu keras-keras.

Ku pegang lagi gelas capucinno di depanku. Masih hangat.

Ku dengar dari jauh kalau pria yang baru masuk tadi memesan kopi nya. Seperti biasa, si barista 1000 volt menyambut pelanggan dengan ramah.

“Vanilla latte ya!” seru-nya pada barista.

Samar-samar langkah kakinya menuju ke arah tempat dudukku. Semakin lama malah semakin dekat. Jangan-jangan dia mau duduk di depanku, karena ada meja kosong tepat di hadapanku. Lengkap sudah, lamunanku buyar oleh pria mesos berotot dan sekarang dia akan duduk di depanku, berhadapan. Sial..

Aku tunduk-kan wajahku. Enggan rasanya menatap wajahnya. Si perusak lamunan.

Tapi ada dorongan dalam hati untuk melihat bagaimana rupanya.  Seketika mataku melirik-nya dengan enggan, saat itu juga aku tertegun.

Dia bukan pria berotot dengan muka pas-pasan. Dia… Dia itu sama tampan-nya dengan Rio Dewanto. Bukan, dia jauh lebih tampan daripada Rio Dewanto! Memakai baju polo shirt warna hitam, celana jeans berwarna biru tua dan sepatu sneakers bernuansa gelap. Hidungnya mancung, kulitnya kuning langsat tapi bersih tanpa noda atau jerawat. Laki banget! Dagunya yang lebar dan ada belahnya , brewokan. Ekspresi mukanya dingin, dan makin dingin saat dia mulai membaca buku di depanku. Ekspresi dingin yang rasanya tidak akan membekukan hati, namun menyejukkan. Sorot matanya begitu tajam, padahal dia hanya menatap huruf-huruf di dalam buku. Jika saja aku jadi huruf-huruf di bukunya, mungkin aku sudah jatuh berserakan dari lembar bukunya.

Dan ternyata dia juga punya lesung pipi!

Kombinasi lengkap macam apa ini. Sekarang aku berkeringat, rasanya suhu tubuhku sudah sama hangatnya dengan capucinno yang baru disajikan.

Dia begitu tampan, tak terelakkan. Mata ku tak bisa lepas darinya. Aku melihatnya diam-diam, dengan kepala setengah tertunduk. Memperhatikan gerak-geriknya saat membaca buku, membuka lembar demi lembar. Serius sekali. Sesekali dia menyeruput vanilla latte di hadapannya lalu lanjut membaca.

Menit demi menit berlalu, dan aku masih melihatnya diam-diam. Mengagumi setiap lekuk wajah dan gesture tubuhnya.

Mendadak dia mengangkat wajahnya, lalu menutup buku. Aku kaget dan tak sempat mengalihkan pandangan. Kami saling menatap, dan aku tertegun. Seketika kehilangan kesadaran..

Aku baru saja kepergok saat memandanginya diam-diam. Habis sudah..

Dia mengemasi buku dan tasnya lalu beranjak dari meja, berjalan ke arahku. Aku gugup tak tentu akal, berusaha memegang apapun yang bisa menyembunyikan wajah. Ah, ada gelas capucinno! Aku mulai menyeruput, dan dia semakin dekat.

Capucinno ini tiba-tiba tak punya rasa lagi. Pria ini membuatnya terasa tawar.

Tiba-tiba dia mengubah arah jalannya, ke arah si barista 1000 volt. Apa dia belum membayar pesanannya?

Pemandangan selanjutnya aku melihat pria keren ini berdiri di depan meja kasir sambil mengangkat kaki sebelah kirinya ke belakang, mirip anak-anak yang main engklek. Dia memanggil-manggil si barista.

Kenapa dia berdiri seperti itu?

Belum habis heranku, si barista 1000 volt keluar dari tempatnya meramu kopi. Menghampiri pria keren yang saat ini tengah bertingkah imut sambil tersenyum manis. ”Ayo kita pergi!” ujar si barista dengan intonasi yang manis. Sekarang dua orang lelaki tampan mulai bertingkah aneh. Mengherankan. Mereka bergerak keluar dari toko kopi, lalu si pria keren bertingkah jantan dengan membukakan pintu dan membiarkan si barista keluar duluan.

Belum habis rasa heranku, pria keren ini sadar kalau aku sedang memperhatikan kejadian barusan. Dia tersenyum lalu mengedipkan matanya padaku.

Heran makin menjadi, aku terus mengintip mereka yang sudah keluar dari toko kopi dari jendela. Mereka berjalan berdua, saling tersenyum satu sama lain, lalu berpegangan tangan.

***

Ku longgarkan dasi yang dari tadi serasa mencekik leher. Ada rasa lega yang muncul, ternyata aku tidak sendiri.

-TAMAT-

Jakarta, 19 September 2013

*Fiksi murni. Jika ada kesamaan nama, tempat, waktu dan kejadian sama sekali bukan kesengajaan. Jika memang ada kesamaan, mohon ditanggapi biasa saja*

sketsa tangan

Iklan

3 pemikiran pada “(Lagi) Fiksi untuk Kelas Creative Writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s