TABUNGAN RINDU

Oleh: Luthfi Kurniawan

Hujan mengetuk jendela, gemericiknya memberi kesimpulan
Ternyata kita menabung rindu
Kamu menyimpannya di dalam tidur sepanjang jalan
Sedang aku menyimpannya dalam pejam matamu

Hujan menyusuri jendela
Menciptakan butir-butir pembias cahaya lampu jalan.
Kata orang rindu itu gila
Sebab ia bisa berkumandang tanpa adanya percakapan.

Kita menyeduh rindu, lalu menyeruputnya hingga habis
Tapi rindu ada lagi,
Tak terbatas bagai sinar mentari di negara tropis
Bagai tabungan berbunga tinggi, rindu terus bertambah. Lagi dan lagi.

Cisarua – Jakarta, 29 September 2013

( Terinspirasi dari celetukan Mia Sentosa di jalan pulang dari Cisarua ke Jakarta. Dia berujar “Mia ka manabuang lalok ah, menabung rindu.” Lalu dia benar-benar ‘menabung’ tidur sampai bis rombongan makrab berhenti di tujuan. Perjalanan memakan waktu kira-kira 3,5 jam, dan mungkin Mia telah tidur selama 3 jam )
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s