HUTAN MERAH: Cerita Tentang Kurcaci & Perapal Mantra

1 Oktober 2013,

Aku menulis surat yang ditujukan pada Hutan Merah. Konon katanya hutan menyekap berbagai sihir, menarik banyak orang kesana. Kebanyakan dari mereka yang pergi ke hutan merah akan kembali ke dunia dengan senyum sumringah.

Aku masih ingat bagaimana bunyi suratnya.

Hai Redcomm Indonesia,

Kaukah yang menyapaku selamat pagi? Kau yang menegakkan kepala di
depan wajah-wajah yang kelam, para merek dagang yang lelah terpampang
dalam iklan yang sayu,tak mengundang birahi orang-orang yang berlalu
lalang, tak memancing uang-uang mereka untuk keluar dari dompet
mereka.

Kau yang menyihir alam, matahari akan menjelma jadi api,
suara burung akan menjelma jadi terompet, dari lembah merek-merek yang mati.

Kau adalah tukang sihir, dan aku hanyalah kurcaci biasa hidup di
lembah merek mati. Gerah dengan kondisi, tapi kurcaci hanya bisa
merapal mantra, tak punya tongkat sihir.

Redcomm, bolehkah aku pinjam tongkat sihirmu? Ah, bukan. Bolehkah aku
jadi muridmu? Bergabung denganmu? Biar kelak kan kita buat merek-merek
sayu tumbuh segar, Biar kurcaci menjelma jadi tukang sihir yang tumbuh
penuh kerendahan hati, merapal mantra-mantra merek, menyihir mereka
dengan megahnya!

Salam,

Luthfi, kurcaci dari lembah mati. 21 tahun gerah dalam merek-merek yang lemas..”

Bangsa penjajah menyebut tempat itu REDcomm Indonesia, sementara aku lebih memilih menyebutnya dengan Hutan Merah. Rasanya sebutan Hutan Merah lebih eksotis di lidah & menggoda di telinga. Lebih pribumi. Sudah pasti hutan itu juga milik pribumi, bukan hutan multinasional macam hutan Ogilvy atau hutan Isobar. Nama-nama itu rasanya tak cocok di negeri ini, terlalu putih, sedangkan kami pribumi lebih sawo matang.

Belum lama surat itu dikirim, balasannya datang lebih cepat dari dugaan. Dengan nama pengirim: Albert. Aku rasa dia punya jabatan layaknya Heimdall pada bangsa Asgard, mengawasi Hutan Merah & menjaganya dari luar, menjaga dari orang-orang yang hendak masuk seperti aku.

“Datanglah. 3 Oktober. Ketika Matahari nyaris lurus, namun tak lurus. Bagai pisang yang ditopang oleh segalah bambu. Hutan Merah”

Aku menggigil. Mungkin ini namanya antusiasme.

***

3 Oktober 2013

Aku berhasil masuk ke Hutan Merah. Setelah sempat berputar-putar dan sesat di padang pasir yang panas, aku nyaris putus asa. Nyaris balik kanan & melambaikan perpisahan pada Hutan Merah. Aku yang lelah bertanya pada kaktus kering, barangkali dia tahu di mana letak Hutan Merah. Seputus asa itu aku sampai-sampai bertanya pada tumbuhan yang nyaris mati. Panas & dahaga mulai mengikis logika.

Tiba-tiba datang sosok berbaju merah, dengan kepala berambut tipis. Badannya tinggi tegap, kulit putih. Aku pikir dia Albert.

“Hendak kemana?” tanya singkat
“Hutan merah. Tapi aku tersesat”

“Mau apa hendak kesana?”

“Aku dipanggil oleh orang sana, namanya Albert”

“Oh. Albert. Ikuti aku. Nama ku Tyo Prasetya..” ujarnya singkat tapi ramah

Logika ku mulai kembali meski masih diradang panas & haus. Setidaknya aku bertemu manusia, dan dia baik. Apalagi mau mengantar ke Hutan Merah.

Sepertinya Hutan Merah tidak seseram hutan-hutan yang lain.

Beberapa menit berjalan, kami sampai di Hutan Merah. Jika mau disebut hutan, tempat itu rasanya terlalu indah. Ada banyak pohon-pohon setinggi dinosaurus berdaun merah & kulit kayu yang putih. Sepintas mirip bendara pribumi. Dugaanku semakin kuat jika hutan ini milik pribumi. Cahaya matahari menembus dari sela-sela daun merah yang tinggi di atas ubun-ubun, makin membuat hutan ini menjadi lebih indah. Tyo menyilahkan masuk, kemudian menyuruh untuk menunggu di depan gerbang hutan.

Aku duduk sambil mengayun-ayunkan kaki. Pada ayunan yang ke 34, Albert datang menemui ku. Heimdall-nya Hutan Merah.

“Hai! Selamat datang! Silahkan masuk, kami sudah menunggumu. Tadi kesasar?”

Dia pandai menebak, pasti dalam ilmu cenayang miliknya dia melihat ku yang kesasar. Orang ini sungguh hebat, dan ramah.

Aku & Albert masuk ke bagian dalam hutan merah. Di dalam tampak beberapa penyihir sedang memainkan keahliannya, ada yang sambil tertawa ada juga yang memasang tampang serius.

“Mereka penyihir baik. Keahlian mereka yang membuat merek-merek dagang tidak lemas lagi..” ujar Albert singkat.

Aku masih melihat mereka dengan terheran-heran, sementara mereka tidak menatapku. Mungkin sibuk luar biasa.

Kami sampai di bagian hutan yang lebih dalam, aku dipersilahkan untuk duduk lagi. Albert menyodorkan segelas air. Lagi-lagi ilmu cenayangnya bisa tahu kalau aku sedang haus & keinginan akan air yang menggila nyaris mengikis logika.

“Tolong jelaskan apa tujuanmu kemari. Benar jika kamu ingin belajar merapal mantra-mantra dari kami?” tanya Albert begitu aku menyeruput tetes air terakhir.

“Iya. Aku ingin belajar mantra-mantra dari Hutan Merah. Kabar itu begitu santer terdengar, kalau Hutan Merah-lah yang menyebabkan merek-merek dari negeri timur & barat tidak lagi lemas dan membuat gembira banyak orang. Apa kau tahu Albert? Aku hidup di lembah mati, tempat di mana merek-merek sangat lemas dan kelabu. Sama sekali tidak menggiurkan & tidak menarik untuk digamit oleh kami para kurcaci. Aku gusar, aku ingin mengubah merek-merek itu. Aku ingin belajar di sini, di Hutan Merah..”

“Begitu?” sahut Albert sambil menggosok-gosok jenggotnya yang tak terlalu panjang.

“Kamu tahu? Rasanya tempat ini telah memilihmu. Aku juga sepertimu di waktu muda, ingin belajar lalu menjadi satu dengan tempat ini. Sebaiknya segera ku panggilkan Sang Ahli Mantra, biar kau langsung bicaranya padanya. Dia yang akan memutuskan, kau akan terus di sini atau tidak.”

Mendadak-dadak satu pohon dengan diameter 20 meter di samping kami memiliki pintu, terbuka dengan kabut yang keluar dari dalam. Ada sosok jelas yang perlahan mulai jelas dari balik kabut. Sebagai perapal mantra, dia terlalu sedap untuk dipandang & terlalu indah untuk tinggal di hutan.

“Aku Inda. Satu-satunya perapal mantra di sini..” senyumnya merekah, muncul begitu saja.

Bersambung..

Iklan

2 pemikiran pada “HUTAN MERAH: Cerita Tentang Kurcaci & Perapal Mantra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s