Cerita Pendek: “Surat Untuk Lia”

 

oleh: Luthfi Kurniawan

Pagi tadi, aku ceritakan kisah kita pada anak-anak. Kamu tahu Lia? Mereka sudah besar.. Rafdi sudah kuliah, di kampus yang jadi 10 kata pertamanya saat awal berbicara. Kamu pasti ingat bagaimana lucunya Rafdi waktu bilang: UI, UI, UI dengan cadelnya. Lalu kita tertawa & aku mencubit pipinya dengan gemas. Rafdi merengek, menggeliat berlindung ke arah dadamu. Kamu tertawa kecil, lalu makin mendekap Rafdi.

Sekarang dia tak akan muat lagi dalam dekapmu, tingginya 175 cm, badannya tinggi seperti ku & kulitnya putih seperti mu.  Dari hari ke hari Rafdi semakin mirip kamu, rambutnya yang lurus selalu ku acak-acak setiap pagi; aku mengacak-acak rambutnya dengan cara yang sama saat aku mengacak-acak rambutmu dulu. Dia juga mewarisi sifatmu yang ‘lovely’, tapi orang lain malah menganggapnya absurd, aneh atau konyol. Oh ya, mungkin kamu akan sedikit khawatir ketika tahu kalau Rafdi memilih jurusan Kriminologi di UI. Tidak apa-apa kok, dia tidak akan berurusan dengan penjahat.

Kiki lain lagi, meskipun sudah besar, dia masih tetap mudah bersedih. Sepertinya dia cetakan dari ku, melankolis. Sifat ku yang selalu kamu tertawakan sejak kita masih kuliah dulu. Dia gampang bersedih jika ada hal yang mengganggunya, tapi cepat pula bangkit. Kiki berambut ikal, sama seperti rambutku. 2 bulan lalu rambutnya tumbuh mekar, ikal mengembang, mirip sekali dengan rambutku waktu kuliah dulu. Rambut yang kamu juluki dengan ‘Rambut bolu kukus’. Tapi Kiki mewarisi senyummu lho, mirip sekali dengan punyamu.

Tadi pagi kuceritakan semua, tentang kisah kita yang diawali oleh sepiring nasi kuning. Kamu masih ingat saat kita pertama bertemu? Waktu itu aku kehabisan nasi padang di warung Maktuo Rahmi. Satu-satunya yang tersisa di kampus kita, hanya pojok makanan Jawa. Saat aku kebingungan, kamu tiba-tiba menyeru dari belakang, “makan nasi kuning aja..

Kamu begitu random, tiba-tiba memberi saran pada orang tidak dikenal. Aku akhirnya menuruti saranmu, makan nasi kuning. Sejak itu kan kisah kita dimulai? Sejak aku menyendokkan suapan pertama & kamu mulai mengoceh.

“Warna almamater kita aneh ya? Ga ceria..”

“Hei, kalau poni ku ku angkat ke atas, aku jadi lebih imut kan? Baby face..”

Salah sendiri kamu pergi kesini, jauh-jauh dari Rawamangun untuk kuliah di Universitas Andalas. Apa boleh buat kalau kamu harus pakai jas hijau lumut? Dan apa hebatnya dengan mengangkat poni? Kamu cantik dengan atau tanpa poni.

Aku juga cerita pada anak-anak betapa gugupnya aku saat membangunkanmu. Waktu itu kamu minta ditelepon pagi hari agar tidak terlambat untuk beli nasi kuning. Mereka tertawa terpingkal-pingkal, katanya aku begitu payah karena keceplosan mengakui betapa indahnya suaramu saat bangun tidur. Mereka bilang aku payah, tapi kalau payah mana mungkin aku menikah denganmu? Hehe

Anak-anak terkejut saat tahu jika kakeknya; Ayahmu, sempat tak sudi akan jalinan asmara kita. Saat aku berkunjung ke rumahmu di Rawamangun, saat aku terhenyak tak tahu mau bilang apa begitu Ayahmu bilang: “Aku tak mau punya menantu orang padang”. “Bukan orang padang, Yah. Minang..” katamu membela. “Terserah mau Minang atau Padang. Aku tak setuju! Cari saja orang Betawi di sekitar sini atau Tionghoa sekalian biar garis sipit matamu tetap ada!”

Itu saat-saat terberat kita. Aku & kamu nyaris menikah dengan jodoh yang dipilihkan. Tapi, takdir Tuhan siapa yang bisa lawan? Nasi kuning meluluhkan hati Ayahmu.. J

Meski aku tak begitu mahir memainkan diksi & berpuisi, aku akan tetap menulis surat seperti ini untuk mu. Meski surat ini tak pernah ku kirim, aku yakin kamu membacanya dari sana. Maaf, sejak surat terakhir yang aku tulis untukmu, ada jeda dua bulan sampai surat ini. Aku begitu sibuk di kantor, agensi-ku sedang hiruk pikuk dengan pitching sana-sini & aku sedang menggodok iklan yang akan disertakan dalam penghargaan berskala Asia. Tenang saja, si kembar masih berpayung perhatian dari ku. Aku selalu memasak pada pagi sebelum berangkat & malam begitu pulang, aku juga tak mau menerima pekerjaan apapun pada akhir pekan, demi si kembar.

Lia, meski kalimat ini sudah ku tulis dalam surat-surat terdahulu tapi akan ku tulis lagi. Aku merindukanmu. Jika rindu ini bisa dituangkan jadi wujud kosmik, mungkin aku bisa membuat satu lagi galaksi baru di alam semesta. Hahaha. Konyol ya?

Maaf, aku belum bisa menyusulmu. Anak-anak masih butuh ayahnya, mereka belum bisa hidup sendiri. Meski lelah memikul rindu seberat ini, meski kadang di malam hari aku putus asa melihat satu bantal tak berpenghuni, aku belum akan menyusulmu. Si kembar harus lulus kuliah dulu, wisuda, bekerja, menikah, & punya cucu. Agar kelak ketika aku menyusulmu, aku bisa menceritakan bagaimana rupa cucu kita.

Sayang, aku tahu Islam melarang angan-angan yang tak mungkin terwujud karena sudah jadi masa lalu. Tapi aku masih tak bisa berhenti mengatakan ini: “Kenapa kamu pergi begitu cepat? Seandainya kamu masih disini.. tentu anak-anak dan aku..”

Maaf, angan-angan ini terulang lagi.

Bahkan dalam cara yang paling mudah sekalipun, rasa rindu pada belahan jiwa takkan menguap begitu saja.

Model: @corneliahalim
Model: @corneliahalim

***

Jakarta, 12 Desember 2013. 16:38 WIB

Iklan

Satu pemikiran pada “Cerita Pendek: “Surat Untuk Lia”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s