WORDS FROM PRO: “Karya Seni Yang Baik itu adalah Ekspresi dari Hati”

Lama hilang dari wordpress. Maaf, saya sedang disibukkan dengan kekasih baru :p

Tumblr namanya. Saat ini saya sedang giat menggiatkan tumblr sebagai media pameran foto swadaya. Jika kalian ingin cuci mata dari layar laptop yang menjemukan atau rutinitas yang memuakkan, silahkan berkunjung ke www.salindia.tumblr.com. Tempat di mana saya melihat dunia melalui sensor CMOS, sensor yang ada dalam setiap kamera digital abad ini.

 

Pameran foto swadaya: salindia.tumblr.com
Pameran foto swadaya: salindia.tumblr.com

Salindia belum genap berusia seminggu tapi alhamdulillah sejauh ini mendapat respon positif, khususnya dari teman-teman satu kampus. Mulai dari doa agar proyek baru ini sukses, sampai ‘memberi hati’ pada foto-foto saya dan me-reblog-nya. Tentu saja ini menggembirakan hati dan membuat saya semakin mantap melanjutkan salindia sebagai pameran foto swadaya.

Suatu malam saya terpikir untuk meminta saran dan kritik dari seorang ahli, fotografer yang berpengalaman dan jauh lebih hebat. Pikir saya, apa gunanya giat belajar dalam berkarya jika tak mendapat kritik dan saran dari ahlinya. Belajar tanpa bimbingan kritik dan saran lambat laun akan mengubah saya jadi katak dalam tempurung yang sombongnya melewati langit ketujuh.

Pikiran saya tertuju pada satu nama, Erison J Kambari. Seorang fotografer kawakan asal Sumatera Barat yang kiprahnya sudah menginjak tangga nasional. Sudah banyak karya-karya yang beliau hasilkan dan diapresiasi oleh banyak pihak. Beliau biasanya membagi karya-karya melalui akun facebook, memberi tahu dunia akan keindahan alam dan budaya minangkabau.

Saya segera menghubungi Om Son (Erison) untuk meminta kritik dan saran beliau untuk karya-karya saya..

Gambar

Yang mengejutkan adalah, ternyata om Son menyukai link yang saya berikan di dinding facebook beliau.

Yang lebih mengejutkan ada di kotak masuk pesan pada facebook saya.

Erison J Kambari

Erison J Kambari

Salam kenal Luthfi…

Maaf, om Son belum pernah sekalipun memberi KRITIK untuk karya orang lain. Jadi om tidak bisa mengkritik foto2 luthfi, dan om memang tidak mau memberi KRITIK. Bagi (om), foto KARYA SENI seseorang itu untuk DINIKMATI SEBISANYA, bukan untuk DIKRITIK2 atau DISARAN2.

Sampai hari ini om berkeyakinan SARAN dan KRITIK belum tentu membuat karya kita menjadi lebih baik!. KRITIK dan SARAN dari seseorang untuk karya kita, itu hanyalah luapan EGO seseorang yang menginginkan karya kita seperti yg dia inginkan! hehe.. Sebanyak orang yg kita mintai saran dan kritik, sebanyak itu pula keinginan2 mereka, harus begini harus begitu sesuai keinginan masing2 mereka. Dan semua itu belum tentu membuat karya kita akan menjadi lebih baik!

Bukankah karya seni yg baik itu adalah EKPRESI dari HATI kita dan bukan dari keinginan2 dari orang lain, sebagai yg belajar OTODIDAK (sama seperti om Son), cara terbaik untuk memperbaiki karya kita adalah dengan RAJIN-RAJIN MENGAMATI KARYA ORANG LAIN, tentunya karya2 yg hebat, lalu kita pelajari sisi2 kelebihan dan kekurangan foto tsb, lalu kita coba2 mencari objek2 seperti mereka (bukan dengan cara mencontek habis2an) tapi sekedar menjadi inspirasi.

Terus RAJIN-RAJIN MOTRET. Apa saja. Lama2 ada “RASA” yg terasah. Naah.. soal “RASA”itu yang susah2 gampang menemukannya. Kalau hanya sekedar motret tanpa sentuhan ‘rasa’, biasanya foto2 yg dihasilkan juga biasa2 saja.

Om sering perhatikan teman2 fotografer kalau posting foto, ada kalimat begini’ “MOHON SARAN dan KRITIK…mohon kripik pedasnya..atau MAAF KALAU KURANG BERKENAN.” Menurut om son, kalimat2 begitu sebaiknya dihindarkan, karena itu justru MENGURANGI NILAi foto kita. Kita sudah merendahkan nilai foto duluan sebelum foto kita dinikmati orang. Kalimat2 itu hanyalah BASA BASI yg tak perlu menurut om son. Alangkah baiknya foto diberi JUDUL yang bisa memberi NILAI PLUS untuk sebuah foto. JUDUL FOTO yang menarik juga membuat penikmat foto bisa tergiring ke suasana yang kita inginkan. Jadi jangan sekali2 menggiring penikmat foto untuk MENGHUJAT foto kita dengan membuka pintu caci maki dengan kalimat basa-basi tadi.

KRITIK dan SARAN terbaik, justru datang dari diri kita sendiri (INTROSPEKSI DIRI) dan bukan dari orang lain. Karena Fotografi adalah soal EKSPRESI HATI dan KEJUJURAN. Fotografi bukan hitungan matematika. Bagi om, dalam fotografi tidak ada istilah HARUS BEGINI HARUS BEGITU. Semua ada indahnya, tergantung kita yg menikmatinya. (MAAF LUTHFI…semua ini hanya PENDAPAT OM SON PRIBADI) bukan untuk SETUJU atau TIDAK SETUJU, hanya sekedar berbagi cerita dan rasa.. Salaaaam..

itu adalah kata-kata yang (amat) membangunkan.

Saya jadi ingat kembali, bahwa esensi dari seni adalah untuk ekspresi jiwa. Untuk dinikmati. Bukan larut dalam adukan kritik. Banyak hal-hal yang tenggelam dalam gulungan ombak kritik, sehingga kehilangan rasa untuk dinikmati. Menyanyi jadi terkesan sulit dan perfeksionis saat kita mendengar komentar juri Indonesian Idol, padahal nyanyian cempreng dari balita atau orang yang kita cintai bisa jadi terdengar sangat merdu di telinga. Memasak menjadi hal yang ribet dan makanan tiba-tiba jadi sesuatu yang dinilai amat detil akibat komentar juri masterchef indonesia yang kita tonton di tv. Menyedihkan jika ada masakan ibu juga mendapatkan kritik pedas dari anak, akibat menonton tayangan kritik berkedok masak-memasak itu. Hidup jadi kehilangan spontanitas, akhirnya kita jadi berpikir berkali-kali sebelum dikeluarkan, bukan untuk evaluasi tapi khawatir akan kritik pedas membakar.

Terima kasih Om Erison, untuk kata-kata yang mengencerkan semangat dan membebaskan spontanitas berkarya.

***

Jakarta, 18 Februari 2014
Menteng atas dalam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s