#MeluruskanPersepsi: “Benarkah Lelaki Minang Mesti Dibeli?”

Dita, gadis Lombok berusia 20 tahun, dikenal karena foto ‘upside down’ (kamu bisa lihat di instagramnya) mengeluarkan pernyataan begini sore ini:

“Kak, cowok padang kalau nikah mesti dibeli kan?”

Apa?
Apa,Dita?
Coba ulang sekali lagi.

“Kak, cowok Padang kalau nikah mesti dibeli kan?”

 

That’s shocked me alot.

Untuk kesekian kali, sudah cukup banyak gadis-gadis di kampus yang menuduh demikian. Saya sebagai lelaki minang (Minang. Bukan orang Padang. Karena Padang sejatinya adalah nama kota, bukan suku bangsa) sedikit banyaknya tetap terkejut dan merasa perlu menjelaskan tentang itu, tentang anggapan bahwa lelaki Minang mesti ‘dibeli’ oleh (keluarga) pengantin wanita.

Saya khawatir jika banyak gadis-gadis bersuku non-minang yang akan menampik saya dan lelaki Minang lainnya karena dihantui persepsi semacam itu.

Jelas, bahwa hal ini mesti dijelaskan dengan jelas.

***

Mengejutkan bahwa peraturan adat minang yang satu itu, masih populer dengan versi lamanya, ketimbang versi barunya. Maksud saya, yang mereka takutkan itu adalah tata cara pernikahan menurut adat lama, bukan adat yang baru. Seiring dengan munculnya kisah ‘Sitti Nurbaya’ oleh Bapak Roman Indonesia (Marah Roesli), peraturan adat bahwa laki-laki mesti ‘dibeli’ oleh wanita yang menikahinya telah terbarukan oleh perkembangan zaman selama puluhan tahun, sejak ‘Sitti Nurbaya’ dikenal khalayak.

Gambar
Novel roman paling fenomenal di Indonesia: Sitti Nurbaya

Sepengetahuan saya, sampai saat tulisan ini diturunkan, hanya daerah Padang Pariaman yang masih menerapkan hal demikian. Mayoritas masyarakat Minang sudah tidak menganut paham adat seperti itu lagi. Modernitas telah mengubah pelaksanaan adat tentang pernikahan bagi orang Minang, demi terlaksananya pernikahan yang bermanfaat bagi kedua belah pihak, baik suami beserta keluarga besarnya, dan istri beserta keluarga besarnya juga.

Kenapa demi bermanfaat bagi kedua belah pihak? Memangnya pernikahan menurut adat lama merugikan?

Mengutip pernyataan Marah Roesli dalam novel terakhirnya ‘Memang Jodoh’, tata cara pernikahan menurut adat lama telah menyebabkan penderitaan bagi pasangan yang menikah.

Gambar
Novel terakhir Marah Roesli: Memang Jodoh

Penderitaan dialami oleh Marah Roesli hingga akhirnya beliau ‘memberontak’ dari adat, dan menikahi wanita yang beliau cintai, seorang gadis Pasundan, bukan gadis Minang. Keputusan itu mesti diganjar dengan pengorbanan, Marah Roesli dibuang dari kaumnya secara adat. Tidak dianggap lagi sebagai orang asli dan bangsawan Minang.

Kemudian Marah Roesli menulis pemberontakannya dalam cara yang santun melalui karya sastra, mengarang cerita-cerita lain tentang perkawinan di Minangkabau, sebagai pernyataan betapa cara-cara perkawinan itu terlalu dilebih-lebihkan, sehingga yang pada mulanya baik, menjadi terlalu ranum, sehingga tak layak lagi dimakan karena terlalu masak.

***

Pada masa dulu, adat Minang menganjurkan (baca: nyaris mewajibkan) laki-laki berpoligami, karena jumlah istri menandakan kemuliaannya. Poligami saat itu dipandang sebagai tindakan yang amat dihormati, menandakan bahwa sang laki-laki adalah orang yang baik, dihargai, dimuliakan dan disukai banyak orang, kemudian menjadi idaman dan incaran para gadis-gadis lajang  dan ibu-ibu yang mendambakan menantu berkualitas. Jika seorang laki-laki minang hanya beristri satu, akan dianggap sebagai suatu kehinaan, dianggap sebagai tanda bahwa laki-laki itu bukan orang yang baik-baik sehingga tidak disukai oleh banyak gadis-gadis & orang lain.

Gambar
Pernikahan dengan adat minang

Kontras sekali dengan pemahaman masa kini, yang menganggap poligami hanyalah wujud ketidakpuasan laki-laki pada satu pasangan dan juga sebagai wadah pemuasan nafsu belaka berkedok pernikahan.

Laki-laki Minang dipandang sangat mulia. Apalagi jika dia seorang bangsawan. Diawali dengan persepsi itu, peraturan adat ini berlaku. Jika ingin menikah dengan laki-laki Minang, keluarga dari pihak wanita mesti ‘menjemputnya’ dengan sejumlah uang dan perhiasan.

Semakin tinggi tingkat kebangsawanan seorang laki-laki, makin mahal ‘biaya jemputannya’. Tidak jarang keluarga dari pihak wanita pada masa dulu rela menjual perhiasan, menggadaikan rumah dan sawah untuk ‘menjemput’ calon menantu/suami idaman. Nah, mungkin ini yang dianggap sebagai: “Laki-laki Minang kalau mau menikah, mesti dibeli oleh calon mempelainya.”

Menurut pemikiran saya, hal ini justru bertentangan dengan ajaran Islam, yang menyuruh agar suami-lah yang harus membayar mahar kepada istri. Bukan sebaliknya. (QS An-Nisaa 4:4)

Hal ini yang diprotes oleh Marah Roesli melalui karya-karyanya. Seiring perkembangan zaman, peraturan adat tentang pernikahan diadaptasi agar sesuai dengan kehidupan modern. Hanya daerah Padang Pariaman yang masih memakai cara lama, bahwa lelaki Minang yang ingin dinikahi (oleh gadis bersuku mana pun) mesti dijemput/ditebus dengan sejumlah uang yang besarnya ditentukan dari tingkat pendidikan sang lelaki. Semakin tinggi pendidikannya, maka semakin mahal juga uang jemputannya. Sisanya untuk daerah Bukittinggi, Padang, Batusangkar, Payakumbuh, dan lain-lain kecuali Pariaman tidak memakai adat lama lagi.

Tapi bagaimana jika kalian terlanjur jatuh cinta dengan lelaki Minang asal Pariaman? Apa harus dihindari karena takut membayar uang ‘jemputan’?

Saya rasa enggak.

Esensi kita sebagai rakyat Indonesia adalah hidup berdampingan sesuai prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Jadi tenggang rasa dan toleransi jadi pedoman utama untuk hidup bersama dengan damai. Semakin luas pergaulan kamu, semakin banyak juga tata cara adat yang kamu ketahui dan mungkin merasa aneh dengan itu. Di sini kita diuji agar mampu memahami dan beradaptasi dengan perbedaan budaya. Di sini kita diuji agar tetap mencintai budaya sendiri tapi tidak menjelma jadi pribadi yang etnosentris (sikap fanatik overdosis pada budaya sendiri dan meremehkan budaya lain)

Hiduplah sebagai warga Indonesia dengan paham egaliter bebas, terbuka dan intelektual. Bukan zamannya lagi kita hanya menilai seseorang dari budaya yang dibawanya, tapi juga kemampuan dan pribadinya. Bukan zamannya lagi cinta kepentok adat, semuanya bisa didiskusikan baik-baik dengan pendekatan dari hati ke hati, dari keluarga ke keluarga.

Hidup bahagia dengan orang yang kita cintai adalah hak asasi masing-masing.

Jadi, jangan ragu untuk jatuh cinta pada orang Minang (atau suku manapun). Jika beruntung, mungkin bisa lanjut ke pelaminan. :-p

Gambar
Muda-mudi Minang yang menawan: saya yang berbaju merah pakai topi 🙂

***

Jakarta, 26 Maret 2014

1:06 am

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s